Sudah lewat seminggu sih..tapi gimana lagi, sekolah anak saya baru memeriahkan hari kartini di hari ini. Yang penting masih bulan April lah ya..

Peringatan hari Kartini atau biasa disebut Kartinian, entah siapa pencetus istilah itu, identik dengan pakaian daerah. Apalagi anak sekolahan, terlebih lagi anak usia TK, pasti deh ada acara parade pakai pakaian daerah. Itulah hari dimana salon dan persewaan baju mendadak jadi primadona. Mendadak kebanjiran order. Para orang tua berlomba booking jasa rias dan rebutan menyewa pakaian daerah. Bahkan jauh hari sebelum acara. Kayak saya, yang udah heboh dari seminggu yang lalu nyari persewaan baju. Tapi bukan saya kalau itu semata-mata karena takut nggak kebagian baju, toh acaranya nggak bareng sama sekolah-sekolah lain. Alasannya sesungguhnya karena saya salah kira tanggal. Gimana dong, sehari-hari saya kan cuma dirumah. Udah lupa hari sama tanggal toh sama aja dirumah terus. Dan lagi, rumah saya itu rumah tanpa hiasan kalender. Wajar kan? Iya dong?! WAJAR KAN???

Oke, jadi saya udah sibuk cari persewaan baju sejak H-10. Tapi saya nggak booking jasa rias kok. Saya cukup pede dengan kemampuan mewarnai wajah. Apalagi anak saya gelian, nggak bisa banget didandanin rempong dikit. Makin yakin saya bakal dandanin sendiri anak saya. Dengan dandanan sewajarnya, toh masih anak-anak. Nggak tega saya, dia dikarbit jadi berpenampilan dewasa pakai eyeliner atas bawah,blush on pink mencolok dan bulu mata. Saya bilang ke anak saya,

“Kamu sudah cantik karena kamu anak baik. Kalau nanti makin cantik pas wajahnya diwarnai dan pakai baju bagus, itu bonus”.

Sebenarnya, saya berharap sekolah anak saya tidak mengadakan acara seperti ini. Lomba fashion show pakaian daerah. Alasannya karena saya nggak bisa nangkep hubungan ibu Kartini dengan fashion show. Ibu Kartini memang pakai baju daerah karena dia ningrat, tapi beliau nggak fashion show kan? Pihak sekolah bilang ini ajang untuk anak berani tampil didepan orang banyak. Jadi seharusnya anak yang berani dan percaya diri lah yang dapat perhargaan. Tapi sudah lupakan saja…namanya fashion show, tetap lah fashion yang nomor satu.

Saya akan lebih suka jika ada lomba story telling tentang ibu Kartini, menggambar dan mewarnai baju ibu Kartini, bernyanyi lagu nasional, menari, atau ketangkasan. Sama-sama tampil, tapi lebih ada valuenya (huopoooh..). Ah entahlah, atau ini hanya perasaan saya aja yang dari dulu nggak tega liat anak kecil berlenggak-lenggok dengan dandanan menor hasil arahan ortu.

Saat acara selesai saya mendengar celetukan ortu murid,

“Tahun depan pakai pakaian adat yang ribet aja. Makin anaknya susah gerak makin bisa menang”.

“Ya kalau begini anakku (cowok) nggak bakal juara, yang menang yang dandan salon semua”.

Yang menang emang banyakan cewek sih, cuma satu cowok dari 9 orang.
Saya sih senyum-senyum aja liat anak saya ketawa hepi dapat hadiah balon dari gurunya. Let the kids be kids..

  

Empat kilo manggis seharga Rp. 36.000,- habis dalam 2 hari 1 malam menghasilkan 2 plastik sampah kulit manggis basah yang beratnya berkurang 1/2 dari berat awal.

Maka muncul pertanyaan:

  1. Berapa banyak manggis yang diperlukan untuk memproduksi ekstrak kulit manggis Mastin (juga suplemen ekstrak kulit manggis lainnya)?
  2. Jika manggis adalah tanaman musiman, maka darimana supply manggis untuk dijadikan ekstrak? Apakah manggis dipaksa berbuah meski tidak musimnya? Bagaimana perasaan mereka?
  3. Bagian yang digunakan untuk membuat ekstrak adalah kulit. Siapakah yang menghabiskan daging buahnya?
  4. Kenapa jingle iklan mastin berubah nadanya?

Penjual manggis langganan sudah mulai menjual duku. Artinya sudah musim duku. Tapi kenapa harga duku yang kecil-kecil itu lebih mahal dari manggis yang lebih besar padahal sama-sama lagi musim? Jual mahal banget deh si duku.

Orang Indonesia ini terkenal ramah, penuh perhatian. Kalau kumpul-kumpul, pasti dengan cepat anda akan dikorek-korek masalah pribadinya. Dan seringnya kita (saya maksudnya) nggak bisa buat nggak usah jawab aja.

“Anakmu udah 2? Ya ampun…cewek semua? Nambah lagi sampe dapet cowok.”

Saya nggak ngerti lho sama yang suka ngomong gitu. Dikira lagi makan bakso apa pake nambah? Situ mau biayain hidup anak-anak saya? Situ mau cebokin anak saya? Situ mau gendong mereka? Enak aja…

Saya sih bikin anak-hamil-melahirkannya nggak masalah. Kalau udah brojol itu mulai deh stres. Hamil cuma 9bulan, melahirkan paling beberapa jam. Lha nggedein anak itu bertahun-tahun. Saya nggak terlalu kuatir soal biaya, insya Allah bisa dicari. Tapi tanggung jawab mendidik mereka itu yang berat, takut saya kalau banyak anak trus nggak keurus dengan maksimal. 

Jadi ibu jaman sekarang itu….saya ngerasa berat banget tantangannya. Dulu saya SD baru belajar baca, sekarang play group udah diajarin baca. Dulu saya SD kelas 5 baru ngeh naksir cowok ganteng. Sekarang anak SD udah sayang-sayangan di status FB. Dulu saya SMP paling banter pulang bareng jalan kaki sama gebetan. Sekarang SMP udah nggak perawan. Dulu SMA saya masih naik bis lalu naik kasta jadi naik motor bekas bapak. Jajan soto di kantin sama es jeruk segelas. Anak sekarang udah naik mobil, nongkrong di kafe, makan di mall. Belom lagi soal kejahatan seksual, penculikan anak,dll. Rasanya pengen pindah warga negara.

Tuh, nulis itu semua bikin saya makin stres. Udah ah!

Asiknya moblogging adalah bisa langsung nulis ketika pengen nulis. Seperti saat ini, saya sedang di mobil dalam perjalanan ke Surabaya bareng anak-anak dan suami. Anak-anak tidur, saya dan suami karaokean mengusir kantuk karena tadi harus berangkat pagi-pagi. Capek karaoke, bisa minum dan makan cemilan. Lanjut karaoke lagi..

Sampai di Bangil, saya lihat ada bis AKAP berhenti dipinggir jalan. Yang menarik karena tempat berhentinya dipinggir sawah. Yakali nurunin penumpang di pinggir sawah? Ternyata, bisa tersebut menunggu penumpangnya. Di samping bis terlihat seorang ibu kerepotan memegang anak lelakinya (sekitar usia awal SD) dan sebuah botol air mineral. Ada seorang lelaki juga di situ, mungkin bapaknya si anak alias suaminya si ibu (emoticon “meh”). Karena mobil saya tetap melaju dengan kecepatan standar, maka kejadian tersebut berlalu begitu standar (tidak begitu cepat) sehingga saya tidak bisa memperhatikan dengan lebih mendalam apa yang terjadi. Yang bisa terekam mata dan pikiran saya si ibu sedang nyebokin anaknya. Nggak jelas sih si anak abis ngapain. Yang mau saya sampaikan disini bukan soal itu. Tapi soal rasa bersyukur saya.

Saya jadi bersyukur sekali suami saya mampu membeli kendaraan pribadi yang bisa kami gunakan untuk perjalan jauh. Jadi kami tidak perlu memakai kendaraan umum yang kurang ramah untuk anak-anak kami yang masih kecil-kecil. Bayangkan kalau supir bis tadi nggak berbaik hati nungguin penumpangnya, mereka harus turun dan menunggu bis lain lagi demi anaknya dan demi kebaikan penumpang lainnya. Artinya musti keluar ongkos lagi. Sukur-sukur kalo lebihan ongkos naik bis tadi dikembaliin, kalau nggak kan mereka keluar ongkos dobel. Trus urusan anaknya musti diselesaikan dipinggir jalan pula. Itu bakal diinget si anak terus lho! Bukan kenangan indah sih menurut saya..

Bukan saya nggak mendukung usulan pemerintah untuk beralih ke transportasi umum, tapi sebagai seorang ibu, saya mau pergi dengan anak-anak itu jadi kegiatan yang menyenangkan buat semua. Kalau ada transportasi umum yang bisa memfasilitasi kebutuhan saya pasti saya mau pakai. Misalnya, bus AKAP dengan tempat duduk nyaman, dan tersedia toilet. Pergi jauh bawa anak-anak itu nggak bisa jauh-jauh dari toilet. Apalagi anaknya masih piyik. Iya bisa pakai popok, tapi apa iya baunya nggak kecium dari jarak selian dan sekian. Pernah ngalamin nggak? Ujung-ujungnya kan mengganggu penumpang lain.

Jadi gini deh.. Bersyukurlah bagi yang bisa mendapat kenyamanan bepergian bersama keluarga, berempatilah terhadap mereka yang masih harus berjuang dengan ketidak nyamanan seperti ibu tadi. Jangan diketawain apalagi dicibir. Tolong didoakan semoga mereka bisa sabar dan segera bisa merasakan kenyamanan seperti kita.

Ada banyak hal yang bisa dibahas sih sebenarnya. Tapi kali ini, saya mauembahas dari sisi seorang ibu beranak dua yang anaknya masih piyik-piyik. Yang ketika mau mengakhiri tulisan ini, si bungsu bangun kemudian tercium bau kurang sedap, membuncah, menyeruak, memecah konsentrasi pengemudi. Bhay!

2015/01/img_4922.jpg
Ini foto lama kok..pas macet-macetan di jogja kemaren.

Innalillahi wa innailaihi roji’un..
Turut berduka cita atas musibah jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501, semoga para korban meninggal diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberi kesabaran dan keikhlasan.

Benar adanya jika kematian itu akan datang tidak peduli kapan dan dimana. Allah sudah tuliskan, maka ketika saatnya tiba, tiada yang bisa mengelak. Saya rasa, tidak ada manusia yang menginginkan kematian. Pun jika ada yang berkata begitu, saya rasa tetap ada rasa takut saat ajal menjemput.

Ketika akan mudik, liburan kali ini, segala detil saya persiapkan sejak jauh hari. Segala keperluan saya dan anak-anak sudah siap sejak sehari sebelum keberangkatan. Saya mengecek berulang-ulang agar tidak ada yang tertinggal. Saya pastikan anak-anak akan nyaman selama perjalanan. Ketika masuk mobil juga selama perjalanan naik kereta, tidak ada prasangka buruk. Yang terbayang hanyalah bertemu keluarga. Yang terbayang adalah suka cita. Mungkin, perasaan yang sama juga dirasakan para korban pesawat Air Asia tersebut. Sungguh saya bersyukur karena Allah masih melindungi saya dan keluarga, menjauhkan kami dari musibah hingga bisa merasakan kebahagian bertemu keluarga.
Kita sibuk mempersiapkan segala detil kebutuhan dunia, tapi sering lupa bahwa mempersiapkan bekal hidup di akhirat jauh lebih penting dan lebih urgent. Karena kita tidak tau sampai kapan umur kita. Dan kehidupan di akhirat itu jauuuhhh lebih lama. Bekal untuk perjalanan mudik yang sebentar saja ribet dan banyak, apalagi bekal perjalanan hidup di akhirat.

Mengingat kematian harusnya lebih sering dilakukan, tanpa menunggu diingatkan seperti sekarang. Karena sebaik-baik nasihat adalah kematian. Setelah selesai posting, belum tentu saya masih ingat mati. Astaghfirullah…
Semoga Allah memberikan kita semua umur yang berkah, yang digunakan untuk sibuk beribadah, sibuk menggendutkan rekening tabungan pahala agar nanti kita semua dikumpulkan bersama orang-orang sholeh di surgaNya. Amin.

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/958/6840424/files/2014/12/img_4735.jpg

Jaman SMP dulu, bu Ririn, guru ekonomi saya yang waktu itu masih single, menjelaskan mengenai macam kebutuhan manusia menurut intensitasnya. Saat itu, beliau menyampaikan ada 3 macam, yaitu: kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier.
Masa SMP saya itu di tahun 90’an. Kala itu kebutuhan primer yang masih dicontohkan adalah: pangan, sandang, dan papan. Untuk kebutuhan sekunder adalah: hiburan dan rekreasi. Sedang kebutuhan tersier contohnya: mobil, motor, handphone, komputer.
Pelajaran tersebut disampaikan saat saya masih kelas 1 SMP, dimana handphone belum dijual layaknya kacang goreng. Dimana para pengguna handphone hanya masyarakat kelas atas. Dimana bentuk handphone masih menyerupai handy talkie. Dimana telpon gebetan lewat wartel itu rasanya greget banget.. Deg2an sampe keringetan gara2 lihat argo tagihan telepon udah mendekati limit duit dikantong.

Sekarang ini, 20th kemudian, bahkan masyarakat kelas bawah pun sudah mengantongi handphone. Anak SD udah pegang smartphone made in china. Anak SMP-SMA pegang tablet dan berkalung DSLR sedang yang kantoran pakai mirrorless. Yang kuliahan? Naik mobil pribadi nongkrong di cafe-cafe

Saya jadi bertanya-tanya, masih ada kah pelajaran tentang macam kebutuhan menurut intensitasnya di sekolah? Jika ya, apa saja contoh masing-masing?

Buat saya, kebutuhan primer jaman sekarang adalah: pangan, sandang, papan, powerbank, dan koneksi internet. Sekian.

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/958/6840424/files/2014/12/img_4651-0.jpg
Gambar dari sini

IMG_4579.PNG
gambar dari sini

Ketika para blogger lama ngak nge-blog, biasanya mereka akan memulai dengan kalimat “Wah! Udah lama nggak nulis. Blognya sampe banyak sarang laba2. *sapu2 blog dulu*” Ya gitu deh..

Saya balik kesini gara2 ada teman yang lagi produktif moblogging. Sebelumnya dia juga sempat hibernasi, lama nggak nulis. Tapi akhir-akhir ini dia rajin pake banged (yang bangetnya pake “d”) nulis. Katanya “Menulis itu seperti menstrukturkan apa yang ada di otak”. Saat baca dan menuliskan kembali kata-katanya itu saya pun bisa dengar suara dan bagaimana intonasinya. Pernah seperti itu? Apa namanya?

Gara-gara dia bilang begitu, saya jadi pengen nulis. Sekedar pembuktian, otak saya yang semrawut ini bisa rapi dan terstruktur lagi atau tidak. Kalau misal tidak, saya bisa tuntut dia dengan pasal apa? Berhubung lagi nonton drama korea yang judulnya I Can Hear Your Voice nih.. Sudah pernah nonton? Anda beruntung..karena saya baru bisa nonton saat diputar di tv nasional dimana jam tayangnya disaat jam tidur anak2. Kalau tidak, saya hanya akan nonton Hi5, Jack and the Neverland Pirates, Handy Manny, Timmy Time, Dibo the Gift Dragon, Sofia the First, Doc McStuffin, Pororo, dll yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu.