December 2014


Innalillahi wa innailaihi roji’un..
Turut berduka cita atas musibah jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501, semoga para korban meninggal diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberi kesabaran dan keikhlasan.

Benar adanya jika kematian itu akan datang tidak peduli kapan dan dimana. Allah sudah tuliskan, maka ketika saatnya tiba, tiada yang bisa mengelak. Saya rasa, tidak ada manusia yang menginginkan kematian. Pun jika ada yang berkata begitu, saya rasa tetap ada rasa takut saat ajal menjemput.

Ketika akan mudik, liburan kali ini, segala detil saya persiapkan sejak jauh hari. Segala keperluan saya dan anak-anak sudah siap sejak sehari sebelum keberangkatan. Saya mengecek berulang-ulang agar tidak ada yang tertinggal. Saya pastikan anak-anak akan nyaman selama perjalanan. Ketika masuk mobil juga selama perjalanan naik kereta, tidak ada prasangka buruk. Yang terbayang hanyalah bertemu keluarga. Yang terbayang adalah suka cita. Mungkin, perasaan yang sama juga dirasakan para korban pesawat Air Asia tersebut. Sungguh saya bersyukur karena Allah masih melindungi saya dan keluarga, menjauhkan kami dari musibah hingga bisa merasakan kebahagian bertemu keluarga.
Kita sibuk mempersiapkan segala detil kebutuhan dunia, tapi sering lupa bahwa mempersiapkan bekal hidup di akhirat jauh lebih penting dan lebih urgent. Karena kita tidak tau sampai kapan umur kita. Dan kehidupan di akhirat itu jauuuhhh lebih lama. Bekal untuk perjalanan mudik yang sebentar saja ribet dan banyak, apalagi bekal perjalanan hidup di akhirat.

Mengingat kematian harusnya lebih sering dilakukan, tanpa menunggu diingatkan seperti sekarang. Karena sebaik-baik nasihat adalah kematian. Setelah selesai posting, belum tentu saya masih ingat mati. Astaghfirullah…
Semoga Allah memberikan kita semua umur yang berkah, yang digunakan untuk sibuk beribadah, sibuk menggendutkan rekening tabungan pahala agar nanti kita semua dikumpulkan bersama orang-orang sholeh di surgaNya. Amin.

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/958/6840424/files/2014/12/img_4735.jpg

Jaman SMP dulu, bu Ririn, guru ekonomi saya yang waktu itu masih single, menjelaskan mengenai macam kebutuhan manusia menurut intensitasnya. Saat itu, beliau menyampaikan ada 3 macam, yaitu: kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier.
Masa SMP saya itu di tahun 90’an. Kala itu kebutuhan primer yang masih dicontohkan adalah: pangan, sandang, dan papan. Untuk kebutuhan sekunder adalah: hiburan dan rekreasi. Sedang kebutuhan tersier contohnya: mobil, motor, handphone, komputer.
Pelajaran tersebut disampaikan saat saya masih kelas 1 SMP, dimana handphone belum dijual layaknya kacang goreng. Dimana para pengguna handphone hanya masyarakat kelas atas. Dimana bentuk handphone masih menyerupai handy talkie. Dimana telpon gebetan lewat wartel itu rasanya greget banget.. Deg2an sampe keringetan gara2 lihat argo tagihan telepon udah mendekati limit duit dikantong.

Sekarang ini, 20th kemudian, bahkan masyarakat kelas bawah pun sudah mengantongi handphone. Anak SD udah pegang smartphone made in china. Anak SMP-SMA pegang tablet dan berkalung DSLR sedang yang kantoran pakai mirrorless. Yang kuliahan? Naik mobil pribadi nongkrong di cafe-cafe

Saya jadi bertanya-tanya, masih ada kah pelajaran tentang macam kebutuhan menurut intensitasnya di sekolah? Jika ya, apa saja contoh masing-masing?

Buat saya, kebutuhan primer jaman sekarang adalah: pangan, sandang, papan, powerbank, dan koneksi internet. Sekian.

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/958/6840424/files/2014/12/img_4651-0.jpg
Gambar dari sini

IMG_4579.PNG
gambar dari sini

Ketika para blogger lama ngak nge-blog, biasanya mereka akan memulai dengan kalimat “Wah! Udah lama nggak nulis. Blognya sampe banyak sarang laba2. *sapu2 blog dulu*” Ya gitu deh..

Saya balik kesini gara2 ada teman yang lagi produktif moblogging. Sebelumnya dia juga sempat hibernasi, lama nggak nulis. Tapi akhir-akhir ini dia rajin pake banged (yang bangetnya pake “d”) nulis. Katanya “Menulis itu seperti menstrukturkan apa yang ada di otak”. Saat baca dan menuliskan kembali kata-katanya itu saya pun bisa dengar suara dan bagaimana intonasinya. Pernah seperti itu? Apa namanya?

Gara-gara dia bilang begitu, saya jadi pengen nulis. Sekedar pembuktian, otak saya yang semrawut ini bisa rapi dan terstruktur lagi atau tidak. Kalau misal tidak, saya bisa tuntut dia dengan pasal apa? Berhubung lagi nonton drama korea yang judulnya I Can Hear Your Voice nih.. Sudah pernah nonton? Anda beruntung..karena saya baru bisa nonton saat diputar di tv nasional dimana jam tayangnya disaat jam tidur anak2. Kalau tidak, saya hanya akan nonton Hi5, Jack and the Neverland Pirates, Handy Manny, Timmy Time, Dibo the Gift Dragon, Sofia the First, Doc McStuffin, Pororo, dll yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu.