Asiknya moblogging adalah bisa langsung nulis ketika pengen nulis. Seperti saat ini, saya sedang di mobil dalam perjalanan ke Surabaya bareng anak-anak dan suami. Anak-anak tidur, saya dan suami karaokean mengusir kantuk karena tadi harus berangkat pagi-pagi. Capek karaoke, bisa minum dan makan cemilan. Lanjut karaoke lagi..

Sampai di Bangil, saya lihat ada bis AKAP berhenti dipinggir jalan. Yang menarik karena tempat berhentinya dipinggir sawah. Yakali nurunin penumpang di pinggir sawah? Ternyata, bisa tersebut menunggu penumpangnya. Di samping bis terlihat seorang ibu kerepotan memegang anak lelakinya (sekitar usia awal SD) dan sebuah botol air mineral. Ada seorang lelaki juga di situ, mungkin bapaknya si anak alias suaminya si ibu (emoticon “meh”). Karena mobil saya tetap melaju dengan kecepatan standar, maka kejadian tersebut berlalu begitu standar (tidak begitu cepat) sehingga saya tidak bisa memperhatikan dengan lebih mendalam apa yang terjadi. Yang bisa terekam mata dan pikiran saya si ibu sedang nyebokin anaknya. Nggak jelas sih si anak abis ngapain. Yang mau saya sampaikan disini bukan soal itu. Tapi soal rasa bersyukur saya.

Saya jadi bersyukur sekali suami saya mampu membeli kendaraan pribadi yang bisa kami gunakan untuk perjalan jauh. Jadi kami tidak perlu memakai kendaraan umum yang kurang ramah untuk anak-anak kami yang masih kecil-kecil. Bayangkan kalau supir bis tadi nggak berbaik hati nungguin penumpangnya, mereka harus turun dan menunggu bis lain lagi demi anaknya dan demi kebaikan penumpang lainnya. Artinya musti keluar ongkos lagi. Sukur-sukur kalo lebihan ongkos naik bis tadi dikembaliin, kalau nggak kan mereka keluar ongkos dobel. Trus urusan anaknya musti diselesaikan dipinggir jalan pula. Itu bakal diinget si anak terus lho! Bukan kenangan indah sih menurut saya..

Bukan saya nggak mendukung usulan pemerintah untuk beralih ke transportasi umum, tapi sebagai seorang ibu, saya mau pergi dengan anak-anak itu jadi kegiatan yang menyenangkan buat semua. Kalau ada transportasi umum yang bisa memfasilitasi kebutuhan saya pasti saya mau pakai. Misalnya, bus AKAP dengan tempat duduk nyaman, dan tersedia toilet. Pergi jauh bawa anak-anak itu nggak bisa jauh-jauh dari toilet. Apalagi anaknya masih piyik. Iya bisa pakai popok, tapi apa iya baunya nggak kecium dari jarak selian dan sekian. Pernah ngalamin nggak? Ujung-ujungnya kan mengganggu penumpang lain.

Jadi gini deh.. Bersyukurlah bagi yang bisa mendapat kenyamanan bepergian bersama keluarga, berempatilah terhadap mereka yang masih harus berjuang dengan ketidak nyamanan seperti ibu tadi. Jangan diketawain apalagi dicibir. Tolong didoakan semoga mereka bisa sabar dan segera bisa merasakan kenyamanan seperti kita.

Ada banyak hal yang bisa dibahas sih sebenarnya. Tapi kali ini, saya mauembahas dari sisi seorang ibu beranak dua yang anaknya masih piyik-piyik. Yang ketika mau mengakhiri tulisan ini, si bungsu bangun kemudian tercium bau kurang sedap, membuncah, menyeruak, memecah konsentrasi pengemudi. Bhay!

2015/01/img_4922.jpg
Ini foto lama kok..pas macet-macetan di jogja kemaren.