April 2015


Sudah lewat seminggu sih..tapi gimana lagi, sekolah anak saya baru memeriahkan hari kartini di hari ini. Yang penting masih bulan April lah ya..

Peringatan hari Kartini atau biasa disebut Kartinian, entah siapa pencetus istilah itu, identik dengan pakaian daerah. Apalagi anak sekolahan, terlebih lagi anak usia TK, pasti deh ada acara parade pakai pakaian daerah. Itulah hari dimana salon dan persewaan baju mendadak jadi primadona. Mendadak kebanjiran order. Para orang tua berlomba booking jasa rias dan rebutan menyewa pakaian daerah. Bahkan jauh hari sebelum acara. Kayak saya, yang udah heboh dari seminggu yang lalu nyari persewaan baju. Tapi bukan saya kalau itu semata-mata karena takut nggak kebagian baju, toh acaranya nggak bareng sama sekolah-sekolah lain. Alasannya sesungguhnya karena saya salah kira tanggal. Gimana dong, sehari-hari saya kan cuma dirumah. Udah lupa hari sama tanggal toh sama aja dirumah terus. Dan lagi, rumah saya itu rumah tanpa hiasan kalender. Wajar kan? Iya dong?! WAJAR KAN???

Oke, jadi saya udah sibuk cari persewaan baju sejak H-10. Tapi saya nggak booking jasa rias kok. Saya cukup pede dengan kemampuan mewarnai wajah. Apalagi anak saya gelian, nggak bisa banget didandanin rempong dikit. Makin yakin saya bakal dandanin sendiri anak saya. Dengan dandanan sewajarnya, toh masih anak-anak. Nggak tega saya, dia dikarbit jadi berpenampilan dewasa pakai eyeliner atas bawah,blush on pink mencolok dan bulu mata. Saya bilang ke anak saya,

“Kamu sudah cantik karena kamu anak baik. Kalau nanti makin cantik pas wajahnya diwarnai dan pakai baju bagus, itu bonus”.

Sebenarnya, saya berharap sekolah anak saya tidak mengadakan acara seperti ini. Lomba fashion show pakaian daerah. Alasannya karena saya nggak bisa nangkep hubungan ibu Kartini dengan fashion show. Ibu Kartini memang pakai baju daerah karena dia ningrat, tapi beliau nggak fashion show kan? Pihak sekolah bilang ini ajang untuk anak berani tampil didepan orang banyak. Jadi seharusnya anak yang berani dan percaya diri lah yang dapat perhargaan. Tapi sudah lupakan saja…namanya fashion show, tetap lah fashion yang nomor satu.

Saya akan lebih suka jika ada lomba story telling tentang ibu Kartini, menggambar dan mewarnai baju ibu Kartini, bernyanyi lagu nasional, menari, atau ketangkasan. Sama-sama tampil, tapi lebih ada valuenya (huopoooh..). Ah entahlah, atau ini hanya perasaan saya aja yang dari dulu nggak tega liat anak kecil berlenggak-lenggok dengan dandanan menor hasil arahan ortu.

Saat acara selesai saya mendengar celetukan ortu murid,

“Tahun depan pakai pakaian adat yang ribet aja. Makin anaknya susah gerak makin bisa menang”.

“Ya kalau begini anakku (cowok) nggak bakal juara, yang menang yang dandan salon semua”.

Yang menang emang banyakan cewek sih, cuma satu cowok dari 9 orang.
Saya sih senyum-senyum aja liat anak saya ketawa hepi dapat hadiah balon dari gurunya. Let the kids be kids..

  

Empat kilo manggis seharga Rp. 36.000,- habis dalam 2 hari 1 malam menghasilkan 2 plastik sampah kulit manggis basah yang beratnya berkurang 1/2 dari berat awal.

Maka muncul pertanyaan:

  1. Berapa banyak manggis yang diperlukan untuk memproduksi ekstrak kulit manggis Mastin (juga suplemen ekstrak kulit manggis lainnya)?
  2. Jika manggis adalah tanaman musiman, maka darimana supply manggis untuk dijadikan ekstrak? Apakah manggis dipaksa berbuah meski tidak musimnya? Bagaimana perasaan mereka?
  3. Bagian yang digunakan untuk membuat ekstrak adalah kulit. Siapakah yang menghabiskan daging buahnya?
  4. Kenapa jingle iklan mastin berubah nadanya?

Penjual manggis langganan sudah mulai menjual duku. Artinya sudah musim duku. Tapi kenapa harga duku yang kecil-kecil itu lebih mahal dari manggis yang lebih besar padahal sama-sama lagi musim? Jual mahal banget deh si duku.