Uncategorized


Sudah lewat seminggu sih..tapi gimana lagi, sekolah anak saya baru memeriahkan hari kartini di hari ini. Yang penting masih bulan April lah ya..

Peringatan hari Kartini atau biasa disebut Kartinian, entah siapa pencetus istilah itu, identik dengan pakaian daerah. Apalagi anak sekolahan, terlebih lagi anak usia TK, pasti deh ada acara parade pakai pakaian daerah. Itulah hari dimana salon dan persewaan baju mendadak jadi primadona. Mendadak kebanjiran order. Para orang tua berlomba booking jasa rias dan rebutan menyewa pakaian daerah. Bahkan jauh hari sebelum acara. Kayak saya, yang udah heboh dari seminggu yang lalu nyari persewaan baju. Tapi bukan saya kalau itu semata-mata karena takut nggak kebagian baju, toh acaranya nggak bareng sama sekolah-sekolah lain. Alasannya sesungguhnya karena saya salah kira tanggal. Gimana dong, sehari-hari saya kan cuma dirumah. Udah lupa hari sama tanggal toh sama aja dirumah terus. Dan lagi, rumah saya itu rumah tanpa hiasan kalender. Wajar kan? Iya dong?! WAJAR KAN???

Oke, jadi saya udah sibuk cari persewaan baju sejak H-10. Tapi saya nggak booking jasa rias kok. Saya cukup pede dengan kemampuan mewarnai wajah. Apalagi anak saya gelian, nggak bisa banget didandanin rempong dikit. Makin yakin saya bakal dandanin sendiri anak saya. Dengan dandanan sewajarnya, toh masih anak-anak. Nggak tega saya, dia dikarbit jadi berpenampilan dewasa pakai eyeliner atas bawah,blush on pink mencolok dan bulu mata. Saya bilang ke anak saya,

“Kamu sudah cantik karena kamu anak baik. Kalau nanti makin cantik pas wajahnya diwarnai dan pakai baju bagus, itu bonus”.

Sebenarnya, saya berharap sekolah anak saya tidak mengadakan acara seperti ini. Lomba fashion show pakaian daerah. Alasannya karena saya nggak bisa nangkep hubungan ibu Kartini dengan fashion show. Ibu Kartini memang pakai baju daerah karena dia ningrat, tapi beliau nggak fashion show kan? Pihak sekolah bilang ini ajang untuk anak berani tampil didepan orang banyak. Jadi seharusnya anak yang berani dan percaya diri lah yang dapat perhargaan. Tapi sudah lupakan saja…namanya fashion show, tetap lah fashion yang nomor satu.

Saya akan lebih suka jika ada lomba story telling tentang ibu Kartini, menggambar dan mewarnai baju ibu Kartini, bernyanyi lagu nasional, menari, atau ketangkasan. Sama-sama tampil, tapi lebih ada valuenya (huopoooh..). Ah entahlah, atau ini hanya perasaan saya aja yang dari dulu nggak tega liat anak kecil berlenggak-lenggok dengan dandanan menor hasil arahan ortu.

Saat acara selesai saya mendengar celetukan ortu murid,

“Tahun depan pakai pakaian adat yang ribet aja. Makin anaknya susah gerak makin bisa menang”.

“Ya kalau begini anakku (cowok) nggak bakal juara, yang menang yang dandan salon semua”.

Yang menang emang banyakan cewek sih, cuma satu cowok dari 9 orang.
Saya sih senyum-senyum aja liat anak saya ketawa hepi dapat hadiah balon dari gurunya. Let the kids be kids..

  

Empat kilo manggis seharga Rp. 36.000,- habis dalam 2 hari 1 malam menghasilkan 2 plastik sampah kulit manggis basah yang beratnya berkurang 1/2 dari berat awal.

Maka muncul pertanyaan:

  1. Berapa banyak manggis yang diperlukan untuk memproduksi ekstrak kulit manggis Mastin (juga suplemen ekstrak kulit manggis lainnya)?
  2. Jika manggis adalah tanaman musiman, maka darimana supply manggis untuk dijadikan ekstrak? Apakah manggis dipaksa berbuah meski tidak musimnya? Bagaimana perasaan mereka?
  3. Bagian yang digunakan untuk membuat ekstrak adalah kulit. Siapakah yang menghabiskan daging buahnya?
  4. Kenapa jingle iklan mastin berubah nadanya?

Penjual manggis langganan sudah mulai menjual duku. Artinya sudah musim duku. Tapi kenapa harga duku yang kecil-kecil itu lebih mahal dari manggis yang lebih besar padahal sama-sama lagi musim? Jual mahal banget deh si duku.

Orang Indonesia ini terkenal ramah, penuh perhatian. Kalau kumpul-kumpul, pasti dengan cepat anda akan dikorek-korek masalah pribadinya. Dan seringnya kita (saya maksudnya) nggak bisa buat nggak usah jawab aja.

“Anakmu udah 2? Ya ampun…cewek semua? Nambah lagi sampe dapet cowok.”

Saya nggak ngerti lho sama yang suka ngomong gitu. Dikira lagi makan bakso apa pake nambah? Situ mau biayain hidup anak-anak saya? Situ mau cebokin anak saya? Situ mau gendong mereka? Enak aja…

Saya sih bikin anak-hamil-melahirkannya nggak masalah. Kalau udah brojol itu mulai deh stres. Hamil cuma 9bulan, melahirkan paling beberapa jam. Lha nggedein anak itu bertahun-tahun. Saya nggak terlalu kuatir soal biaya, insya Allah bisa dicari. Tapi tanggung jawab mendidik mereka itu yang berat, takut saya kalau banyak anak trus nggak keurus dengan maksimal. 

Jadi ibu jaman sekarang itu….saya ngerasa berat banget tantangannya. Dulu saya SD baru belajar baca, sekarang play group udah diajarin baca. Dulu saya SD kelas 5 baru ngeh naksir cowok ganteng. Sekarang anak SD udah sayang-sayangan di status FB. Dulu saya SMP paling banter pulang bareng jalan kaki sama gebetan. Sekarang SMP udah nggak perawan. Dulu SMA saya masih naik bis lalu naik kasta jadi naik motor bekas bapak. Jajan soto di kantin sama es jeruk segelas. Anak sekarang udah naik mobil, nongkrong di kafe, makan di mall. Belom lagi soal kejahatan seksual, penculikan anak,dll. Rasanya pengen pindah warga negara.

Tuh, nulis itu semua bikin saya makin stres. Udah ah!

Asiknya moblogging adalah bisa langsung nulis ketika pengen nulis. Seperti saat ini, saya sedang di mobil dalam perjalanan ke Surabaya bareng anak-anak dan suami. Anak-anak tidur, saya dan suami karaokean mengusir kantuk karena tadi harus berangkat pagi-pagi. Capek karaoke, bisa minum dan makan cemilan. Lanjut karaoke lagi..

Sampai di Bangil, saya lihat ada bis AKAP berhenti dipinggir jalan. Yang menarik karena tempat berhentinya dipinggir sawah. Yakali nurunin penumpang di pinggir sawah? Ternyata, bisa tersebut menunggu penumpangnya. Di samping bis terlihat seorang ibu kerepotan memegang anak lelakinya (sekitar usia awal SD) dan sebuah botol air mineral. Ada seorang lelaki juga di situ, mungkin bapaknya si anak alias suaminya si ibu (emoticon “meh”). Karena mobil saya tetap melaju dengan kecepatan standar, maka kejadian tersebut berlalu begitu standar (tidak begitu cepat) sehingga saya tidak bisa memperhatikan dengan lebih mendalam apa yang terjadi. Yang bisa terekam mata dan pikiran saya si ibu sedang nyebokin anaknya. Nggak jelas sih si anak abis ngapain. Yang mau saya sampaikan disini bukan soal itu. Tapi soal rasa bersyukur saya.

Saya jadi bersyukur sekali suami saya mampu membeli kendaraan pribadi yang bisa kami gunakan untuk perjalan jauh. Jadi kami tidak perlu memakai kendaraan umum yang kurang ramah untuk anak-anak kami yang masih kecil-kecil. Bayangkan kalau supir bis tadi nggak berbaik hati nungguin penumpangnya, mereka harus turun dan menunggu bis lain lagi demi anaknya dan demi kebaikan penumpang lainnya. Artinya musti keluar ongkos lagi. Sukur-sukur kalo lebihan ongkos naik bis tadi dikembaliin, kalau nggak kan mereka keluar ongkos dobel. Trus urusan anaknya musti diselesaikan dipinggir jalan pula. Itu bakal diinget si anak terus lho! Bukan kenangan indah sih menurut saya..

Bukan saya nggak mendukung usulan pemerintah untuk beralih ke transportasi umum, tapi sebagai seorang ibu, saya mau pergi dengan anak-anak itu jadi kegiatan yang menyenangkan buat semua. Kalau ada transportasi umum yang bisa memfasilitasi kebutuhan saya pasti saya mau pakai. Misalnya, bus AKAP dengan tempat duduk nyaman, dan tersedia toilet. Pergi jauh bawa anak-anak itu nggak bisa jauh-jauh dari toilet. Apalagi anaknya masih piyik. Iya bisa pakai popok, tapi apa iya baunya nggak kecium dari jarak selian dan sekian. Pernah ngalamin nggak? Ujung-ujungnya kan mengganggu penumpang lain.

Jadi gini deh.. Bersyukurlah bagi yang bisa mendapat kenyamanan bepergian bersama keluarga, berempatilah terhadap mereka yang masih harus berjuang dengan ketidak nyamanan seperti ibu tadi. Jangan diketawain apalagi dicibir. Tolong didoakan semoga mereka bisa sabar dan segera bisa merasakan kenyamanan seperti kita.

Ada banyak hal yang bisa dibahas sih sebenarnya. Tapi kali ini, saya mauembahas dari sisi seorang ibu beranak dua yang anaknya masih piyik-piyik. Yang ketika mau mengakhiri tulisan ini, si bungsu bangun kemudian tercium bau kurang sedap, membuncah, menyeruak, memecah konsentrasi pengemudi. Bhay!

2015/01/img_4922.jpg
Ini foto lama kok..pas macet-macetan di jogja kemaren.

Innalillahi wa innailaihi roji’un..
Turut berduka cita atas musibah jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501, semoga para korban meninggal diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberi kesabaran dan keikhlasan.

Benar adanya jika kematian itu akan datang tidak peduli kapan dan dimana. Allah sudah tuliskan, maka ketika saatnya tiba, tiada yang bisa mengelak. Saya rasa, tidak ada manusia yang menginginkan kematian. Pun jika ada yang berkata begitu, saya rasa tetap ada rasa takut saat ajal menjemput.

Ketika akan mudik, liburan kali ini, segala detil saya persiapkan sejak jauh hari. Segala keperluan saya dan anak-anak sudah siap sejak sehari sebelum keberangkatan. Saya mengecek berulang-ulang agar tidak ada yang tertinggal. Saya pastikan anak-anak akan nyaman selama perjalanan. Ketika masuk mobil juga selama perjalanan naik kereta, tidak ada prasangka buruk. Yang terbayang hanyalah bertemu keluarga. Yang terbayang adalah suka cita. Mungkin, perasaan yang sama juga dirasakan para korban pesawat Air Asia tersebut. Sungguh saya bersyukur karena Allah masih melindungi saya dan keluarga, menjauhkan kami dari musibah hingga bisa merasakan kebahagian bertemu keluarga.
Kita sibuk mempersiapkan segala detil kebutuhan dunia, tapi sering lupa bahwa mempersiapkan bekal hidup di akhirat jauh lebih penting dan lebih urgent. Karena kita tidak tau sampai kapan umur kita. Dan kehidupan di akhirat itu jauuuhhh lebih lama. Bekal untuk perjalanan mudik yang sebentar saja ribet dan banyak, apalagi bekal perjalanan hidup di akhirat.

Mengingat kematian harusnya lebih sering dilakukan, tanpa menunggu diingatkan seperti sekarang. Karena sebaik-baik nasihat adalah kematian. Setelah selesai posting, belum tentu saya masih ingat mati. Astaghfirullah…
Semoga Allah memberikan kita semua umur yang berkah, yang digunakan untuk sibuk beribadah, sibuk menggendutkan rekening tabungan pahala agar nanti kita semua dikumpulkan bersama orang-orang sholeh di surgaNya. Amin.

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/958/6840424/files/2014/12/img_4735.jpg

Jaman SMP dulu, bu Ririn, guru ekonomi saya yang waktu itu masih single, menjelaskan mengenai macam kebutuhan manusia menurut intensitasnya. Saat itu, beliau menyampaikan ada 3 macam, yaitu: kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier.
Masa SMP saya itu di tahun 90’an. Kala itu kebutuhan primer yang masih dicontohkan adalah: pangan, sandang, dan papan. Untuk kebutuhan sekunder adalah: hiburan dan rekreasi. Sedang kebutuhan tersier contohnya: mobil, motor, handphone, komputer.
Pelajaran tersebut disampaikan saat saya masih kelas 1 SMP, dimana handphone belum dijual layaknya kacang goreng. Dimana para pengguna handphone hanya masyarakat kelas atas. Dimana bentuk handphone masih menyerupai handy talkie. Dimana telpon gebetan lewat wartel itu rasanya greget banget.. Deg2an sampe keringetan gara2 lihat argo tagihan telepon udah mendekati limit duit dikantong.

Sekarang ini, 20th kemudian, bahkan masyarakat kelas bawah pun sudah mengantongi handphone. Anak SD udah pegang smartphone made in china. Anak SMP-SMA pegang tablet dan berkalung DSLR sedang yang kantoran pakai mirrorless. Yang kuliahan? Naik mobil pribadi nongkrong di cafe-cafe

Saya jadi bertanya-tanya, masih ada kah pelajaran tentang macam kebutuhan menurut intensitasnya di sekolah? Jika ya, apa saja contoh masing-masing?

Buat saya, kebutuhan primer jaman sekarang adalah: pangan, sandang, papan, powerbank, dan koneksi internet. Sekian.

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/958/6840424/files/2014/12/img_4651-0.jpg
Gambar dari sini

IMG_4579.PNG
gambar dari sini

Ketika para blogger lama ngak nge-blog, biasanya mereka akan memulai dengan kalimat “Wah! Udah lama nggak nulis. Blognya sampe banyak sarang laba2. *sapu2 blog dulu*” Ya gitu deh..

Saya balik kesini gara2 ada teman yang lagi produktif moblogging. Sebelumnya dia juga sempat hibernasi, lama nggak nulis. Tapi akhir-akhir ini dia rajin pake banged (yang bangetnya pake “d”) nulis. Katanya “Menulis itu seperti menstrukturkan apa yang ada di otak”. Saat baca dan menuliskan kembali kata-katanya itu saya pun bisa dengar suara dan bagaimana intonasinya. Pernah seperti itu? Apa namanya?

Gara-gara dia bilang begitu, saya jadi pengen nulis. Sekedar pembuktian, otak saya yang semrawut ini bisa rapi dan terstruktur lagi atau tidak. Kalau misal tidak, saya bisa tuntut dia dengan pasal apa? Berhubung lagi nonton drama korea yang judulnya I Can Hear Your Voice nih.. Sudah pernah nonton? Anda beruntung..karena saya baru bisa nonton saat diputar di tv nasional dimana jam tayangnya disaat jam tidur anak2. Kalau tidak, saya hanya akan nonton Hi5, Jack and the Neverland Pirates, Handy Manny, Timmy Time, Dibo the Gift Dragon, Sofia the First, Doc McStuffin, Pororo, dll yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu.

Alhamdulillah… 6 bulan sudah Cipa berjuang,belajar bersama bunda untuk sukses ASI Eksklusif. Tidak ada halangan berarti dalam prosesnya, sungguh Allah sangat berbaik hati kepada kami.

Flash back disaat Cipa lahir ke dunia, sedikit penyesalan tidak bisa melaksanakan IMD sempurna. Kami hanya melakukan skin to skin contact beberapa saat. Cipa sesak..tangisnya terputus-putus. Jika dipaksakan pun tidak baik baginya.
Kegagalan IMD berlanjut ke tertundanya saya menyusui. Karena Respiratory Rate Cipa masih belum stabil, saya harus menunggu untuk bisa menyusuinya. Karena jika dia menyusu langsung, dia bisa makin sesak dan kepayahan. Saya baru bisa menyusui dihari berikutnya.

ASI belum keluar banyak saat Cipa menyusu pertama kali.. Bahagia dan terharu sekali saat mulut mungil itu mencari energi hidupnya. Cipa anak pintar, dia langsung bisa menyusu dengan baik. Lidahnya terasa kasar, sedikit sakit memang, tapi tidak sesakit yang saya bayangkan. Saya sempat mengalami lecet puting di hari2 awal. Tidak apa2,kami masih sama2 belajar. Semua menjadi lebih mudah seiring berjalannya waktu.

Alhamdulillah saya hanya sekali mengalami mastitis ringan. Sembuh dengan memerah PD dan sering disusukan. Mandi dibawah shower dengan air hangat juga cukup membantu. Pertolongan pertama pada mastitis bisa juga dengan mengompres menggunakan Daun Kol Hijau. Ilmu ini saya dapat saat mengikuti kelas edukasi Common Problem in Breastfeeding beberapa waktu lalu. Tidak ada kata terlambat untuk belajar meski saat kelas tersebut diadakan, Cipa sudah hampir 6 bulan 😀

Alhamdulillah..selama 6 bulan, ASI mengalir lancar dan mencukupi kebutuhan Cipa. Kenaikan berat badan setiap bulannya berkisan 300-500gram. Pernah sampai 800gram.

Punya anak dan jauh dari suami bukan perkara mudah. Saya harus pandai menjaga emosi agar tetap tenang dalam segala kondisi. Tujuannya supaya asupan ASI tetap maksimal dan anak tidak rewel. Alhamdulillah..saya punya suami yang meski minim ilmu tentang ASI karena sibuk dengan pekerjaan, tapi beliau sangat mendukung dan memberi kepercayaan kepada saya. Ayah Cipa adalah AyahASI, Ayah hebat 🙂

Perjuangan belum berakhir. Saya bertekad memberikan ASI minimal 2tahun. Jika Cipa masih menginginkan maka saya akan berikan. Hingga suatu saat nanti, kami berdua sama-sama siap dan ikhlas melepaskan keintiman ini.

Kewajiban ibu untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. ASI yang terbaik, ASI adalah hak anak.
Seorang ibu secara alami dibekali kemampuan untuk menyusui oleh Yang Kuasa. Maka mari berikhtiar dahulu. Jangan batasi diri dengan pikiran-pikiran negatif. Bekali diri dengan ilmu yang cukup. Percaya diri lah!
Jika mengalami kesulitan, jangan menyerah. Sudah banyak konselor laktasi yang siap membantu dan memberi dukungan.

Saya Bunda Syifa, saya anak ASI seperti Syifa,anakku.. 🙂

-ditulis dengan penuh syukur kepada Allah atas segala kasih sayangnya-

Tak disangka, tak diduga..saya udah kedatangan tamu! Eerrr…sempet bete, karena saya udah pede full breastfeeding wholeday bakal jadi KB alami. Tapi alhamdulillah saya ditegur sama Allah, biar gak terlalu pede dan “keminter”. So, this is it.. Saya “dapet” lagi setelah full breastfeed selama nyaris 6 bulan. Gak mau terlalu sedih, maunya ikhlas biar ASI tetep lancar jaya, Cipa lulus S1 ASIX lanjut sampai S3. Amiin..

Berita baiknya adalah..saya bisa nyobain full menspad sejak hari pertama. Menspad itu apa? Akronim dari menstrual pad. Pembalut yang dibuat dari kain, dengan lapisan penyerap dari microfibre, dan lapisan PUL untuk mencegah tembus. Jadi meskipun kain, bisa nggak tembus! Menspad ini reusable, bisa dicuci trus dipake lagi. Hemat! Dengan memakai pembalut dari kain, kita juga bebas dari zat berbahaya Dioxin yang terkandung dalam pembalut sekali pakai. Dioxin itu toksin, kontak jangka panjang bisa menyebabkan kanker. Jadi pakai menspad juga sehat!
Mau bilang menspad gak higienis? Hellooww…pake celana dalam kan ya? Nyucinya gimana? Higienis gak celana dalam lo?

Kenapa cloth menspad? Kan sekarang banyak tuh pembalut yang organik+tambahan herbal. Alasannya simpel, hemat! Saya ini wanita, saya seorang istri, saya ibu rumah tangga. Jika saya wanita karir dengan gaji 10jt/bulan, saya pasti pilih pembalut organik yang maharani itu. Sayangnya saya nggak punya penghasilan segitu..memakai menspad adalah pilihan saya untuk sehat dengan hemat. Semoga sih ini merupakan keputusan yang bijak 🙂

Dimana belinya? Hihihi…saya jual! Tenang aja.. Produk yang saya jual adalah merk yang sama dengan yang saya pakai. Menspad keluaran GG, produk lokal berkualitas. Empuk, kering, mudah menyerap, mudah dibersihkan, cepat kering dan harga terjangkau.

Last, ini penampakannya.. Saya sudah say gudbye sama pembalut sekali pakai. Kamu? 😀

Anatomi menspad GG

Anatomi menspad GG

pilihan warna

pilihan warna

Kisah ini, mungkin bisa membantu mengisi titik titik pada judul di atas..

A story about Rizki, My Genius Student

By : Erwin “Wiwin” Puspaningtyas Irjayanti

 

“The Old Man said, Everyday has its miracle. I am not the Old Woman, but I believe it too: EVERYDAY HAS ITS MIRACLE” 🙂

Kisah ini hadir di layar komputermu setelah seorang guru di SD terpencil berlari-lari riang selama 45 menit sembari membawa parang bersama 3 muridnya yang menggenggam bambu runcing untuk menghalau babi–jika sewaktu-waktu ketemu–menuju “Bukit Harapan”, demikian bukit itu diberi nama baru-baru ini karena di bukit itu telah ditemukan sinyal GPRS. Diketik dengan penuh kesabaran di atas keyboard HP Nokia E63, inilah kisah yg ingin diceritakan oleh guru SD terpencil itu:

Tentang Rizki.
Teman-temannya, murid kelas 3, bercerita tentang dia kepada saya: anak itu, namanya Rizki. Rizki Ramlan. 9 tahun. Sejak 4 bulan belakangan, dia tak pernah berangkat ke sekolah. Tanpa alasan. Namun desas desus menyebutkan, bahwa ia malas bangun pagi. Dengan kehadirannya yang tak lebih dari 20 kali dalam 1 semester, teman2nya mengenal ia sebagai anak pandai. Rizki, ia tinggal di Tamaluppu.

Tentang Tamaluppu.
Ialah sebuah tempat yg lebih terpencil dari Passau–tempat terpencil dimana saya tinggal saat ini.

Ini adalah statistik tentang Tamaluppu (T) Vs. Passau (P).

*Jumlah rumah: 13 (T) Vs. 60 (P).

*Listrik: sama sekali tidak ada (T) Vs. genset desa dr jam 19.00-22.00 (P).

*Sinyal GSM: sama sekali tidak ada (T) Vs. Maksimal utk SMS di spot tertentu (P)

*Jarak dari jln.poros Majene-Mamuju: 6-7 km / 1,5-2 jam perjalanan (T) Vs. 3 km / 45 menit perjalanan (P).

*Dapat dicapai menggunakan: hanya dengan jalan kaki dari Passau (T) Vs. Motor, jika tidak turun hujan (P)

Tentang Ide Mengajar di Tamaluppu
Pada hari dimana saya mengemukakan ide bahwa saya ingin seminggu 2x memberi pelajaran tambahan bagi anak-anak di Tamaluppu, banyak orang menganjurkan untuk tidak usah, karena itu jauh, susah, repot. Anak2 Tamaluppu juga lebih pemalu dari anak2 super pemalu di Passau. Buat apa? Kenapa tidak menyuruh mereka saja yang ke sini utk mendapatkan pelajaran tambahan?
Saya bergeming. Hanya tersenyum dan dengan halus menjawab keberatan orang2, “saya akan tetap ke sana, meski sendirian.”

Tentang Tamaluppu yang Saya Kenal.
Sudah tiga minggu ritual ini berjalan: Jam 3 sore, setiap Selasa dan Jumat, pergi ke Tamaluppu mengajar anak-anak di sana. Kami belajar dimana saja: di rumah Ali (murid kelas 6), di halaman langgar, di bawah pohon kelapa (yg sedang tidak berbuah). Saya mengenang Tamaluppu dalam beberapa potongan memori:
–ialah suatu tempat dimana 8 dari 63 murid saya tinggal. Yang jika hari hujam, dipastikan anak2 itu tidak akan berangkat sekolah.
–Sebab jika hari hujan, jalan setapak yg sedianya mereka lewati berubah menjadi sungai dan air terjun.
–Anak2 itu berangkat ke sekolah dengan membawa bambu runcing, sebab di perjalanan dari Tamaluppu menuju Passau, seringkali mereka musti berhadapan dengan babi hutan.

Antara Saya dan Rizki Ramlan
Saya tidak pernah mengenal anak itu. Menyentuhnya. Berbicara dengannya. Saya tidak mampu. Ia begitu tak tersentuh. Begitu jauh. Setiap kali saya berusaha mendekatinya sehabis saya mengajar anak2 Tamaluppu yang lain, ia selalu lari. Menjauh. Mengintai saya dari tempat yang menurutnya paling aman sedunia: persembunyiannya. Saya mengalah. Saya memilih tidak memaksa.

Hingga pada suatu sore yg berhujan deras, yg tak henti-henti sampai petang dan malam tiba, saya memutuskan untuk menerima kesopanan orangtua Ali yg menawarkan saya bermalam di rumah mereka.
Singkatnya malam itu, Rizki yg malu-malu itu, pada suatu kesempatan saat saya habis salat isya, dari balik pintu dia melemparkan: selembar kertas yg bulat karena diremas, dua lembar, tiga lembar, sampai 6 lembar. Lalu, dia lari.
Dia berlari dan menjauh. Tak tersentuh untuk kesekian kalinya.

Saya membuka kertas2 itu. Isinya, membuat saya mematung:
Coretan soal2 matematika yg tiga minggu ini kuajarkan pada anak-anak Tamaluppu, kelas 4, kelas 6.
Di kertas yg lain, coretan soal yg dia buat sendiri, dan dia jawab sendiri. Dan 80% jawabannya adalah benar: materi kelas 4, materi kelas 6. Rizki, kelas 3, sudah 4 bulan tidak masuk sekolah.

Aku tertegun. Mematung.

Dalam nyala obor, aku menulis di sesobek kertas: “Pintar sekali kamu! Sekolah di mana?”. Kuremas kertas itu.
Lalu keluar rumah: mencari sosoknya di kegelapan dan menemukannya sedang mengintaiku dari bawah tangga. Kulempar kertas itu di tempat yg terlihat namun agak jauh darinya, lalu pergi seolah-olah yg barusn kulempar adalah sampah.

Tak lama, dari jendela yg sengaja kubuka, masuklah segumpal kertas:
“Tidak sekolah. Tidak ada yang diajarnya. Tidak ada gurunya.”
Aku tersenyum. Benar dugaanku bahwa dia akan membalas suratku. Tanpa sempat menutup jendela, aku tertidur. Tak tahu bahwa seorang anak meringkuk di bawah jendela, menanti ada balasan atas segumpal kertas yg dilemparnya. Hanya karena dia berpikir bahwa jendela itu masih terbuka. Ketika pagi, baru aku sadar: jendela terbuka, aku melongok, menemukan tubuh kecil meringkuk di atas bangku dari bambu. Tertidur. Tangannya menggenggam kertas, dan pulpen.

Tentang suatu hari bernama Selasa, 14 Desember 2010, sekira pukul 15.30 WITA
Hari hampir hujan. 30 menit perjalanan dari Passau sudah saya tempuh. 15 menit lagi, saya tiba di Tamaluppu. Antara ya dan tidak, sembari menatap langit berawan pekat, saya memutuskan melanjutkan perjalanan. Tak sampai 5 menit, hujan turun. Langsung sangat deras. Saya berteduh di bawah pohon jambu mete, bersama kakak angkat saya yang juga guru sukarela, Kak Yani. Semenit, dua menit.

 

Di kejauhan, di bawah butiran air yg menyamarkan pandangan mata, samar-samar kulihat sesosok bocah. Bertelanjang dada, bercelana yang warnanya seperti coklat. Parang di tangan kirinya, daun pisang di tangan kanannya. Dia mendekat. Semakin dekat dan dia menuju kami. Menuju saya. Mengulurkan daun pisang di tangan kanannya, satu untuk saya, satu untuk Kak Yani.
Aku dan Kak Yani saling bertatapan.

Aku bertanya yg segera diterjemahkan oleh Kak Yani yang intinya, “ngapain kamu di sini? Dari kebun?”

Dia tak menjawab.
Dadanya naik turun. Naik, turun. Naik, turun. Naik turun dengan cepat. Air hujan, mungkin, telah mengaburkan–jika benar–air matanya.

Dia menangis.

Ya, dia menangis.

Lalu, dengan bahasa Mandar yg kacau, saya bertanya, “mangappai i’o sumangiq, Rizki? Mengapa kamu menangis, Rizki?”

Aku mengulurkan tangan. Meraih tubuh basan kuyupnya. Dan untuk pertama kalinya, ia diam. Tak berlari. Tak menjauh. Rizki, akhirnya, aku dapat menyentuh tubuh kecilnya.

Lalu tiba-tiba, Tiba-tiba saja, dia menyambutku. Memeluk pinggangku. Melingkarkan tangannya yang masih memegang parang di pinggangku.
“Puang, yakkuq meloq massikola.”
Dalam hujan, dia menenggelamkan kepalanya di perutku, mengalahkan derasnya suara hujan dengan suaranya, “Puang, saya mau sekolah.”

Dia memelukku. Erat.

Aku mematung. Haru. Sakit. Sesak. Bahagia. Sesak oleh perasaan bahagia.

Teringat olehku tentang pagi itu, ketika bocah itu masih meringkuk tertidur di bangku bambu bersama segenggam kertas dan pulpen, saat kuletakkan segenggam kertas di dekat kepalanya, “Pergilah ke sekolah. Aku guru di sana. Akan kuajar kau tentang rahasia-rahasia yang ingin kau tahu. Semua rahasia. Pergilah ke sekolah.”

Pagi ini, 15 Desember 2010
Kebahagiaan adalah ketika dari jendela rumahm saya melihat anak-anak Tamaluppu tiba di sekolah. Ada Rizki di sana. Dengan seragam kusut robek-robeknya. Saat aku masuk halaman sekolah, ia tengah memegang raket badminton.
Saat ia kutatap, ia melengos. Pura-pura tak melihat. Dia masih malu-malu.

Saat kudekati, ia kembali berlari.
Ia kembali menjauh.
Ia kembali tak tersentuh.
Tapi aku tahu, hari-hari esok, dia akan melemparkan bola-bola kertasnya kepadaku. Lagi. Seperti tadi siang ketika tiba-tiba ia melemparku segenggam kertas, “Kapan Tamaluppu akan mengalami musim salju seperti di Amerika?”

***

Salam hangat dari Bukit Harapan

(^_^)

 

Kisah itu saya copas dari milis yang saya ikuti.

Jadi mau diisi apa titik-titik diatas?

Next Page »