Saya sebenarnya pernah menyinggung tentang popok kain modern ini di post sebelumya. Di situ saya gunakan istilah Clodi, sigkatan dari Cloth Diaper yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Popok Kain. Nah, karena masyarakat Indonesia melihat yang disebut clodi itu bentuknya tidak seperti popok kain yang (sebenarnya) sudah mereka kenal, maka diterjemahkanlah bahwa clodi itu adalah popok kain yang modern. Padahal,  popok tetra yang ditali, yang dulu saya dan teman-teman pakai semasa bayi itu juga clodi. Dari kain kan?

Nah, Indonesia ini kan statusnya negara (yang katanya) berkembang, maka dalam hal kemajuan teknologi masih tertinggal dari negara-negara maju yang mana dari sanalah produk popok kain dalam bentuk modern diciptakan. Modern di sini saya terjemahkan dalam bentuk yang lebih ringkas, praktis, kemampuan dan kualitas yang lebih baik. Saya yakin ide awal buibu di negara maju sana sebenarnya hanya ingin mempraktiskan dan meningkatkan derajat popok kain agar setara atau bahkan lebih dari disposable diaper alias popok sekali pakai (pospak) yang booming di era 90an di Indonesia, entah di sana udah dari kapan saya belum cari tau 😀 maaf.. Apalagi setelah para peneliti di negara maju sana menemukan banyak dampak negatif dari popok sekali pakai bagi kesehatan maupun lingkungan. Nah, mari kita bahas satu per satu.

Apa sih dampak buat kesehatan?

Yang menjadi perhatian kesehatan terkait pospak adalah pewarna sodium polyacrylate (gel penyerap), dan dioxin, yang merupakan sebuah hasil sampingan dari proses bleaching (pemutihan) yang digunakan pada pabrik kertas, termasuk pabrik pembalut wanita, tissue, sanitary pad dan diaper (popok untuk anak-anak) . Pada masa lalu, Sodium polyacrylate sering dikaitkan dengan sindrom toxic shock, reaksi alergi, dan juga berbahaya karena ternyata bersifat letal terhadap binatang. Beberapa jenis pewarna dan dioksin menurut EPA (Environmental Protection Agency) diketahui dapat merusak sistem saraf pusat, ginjal, dan hati. (FDA) Food & Drug Administration menerima laporan bahwa aroma pada pospak dapat menyebabkan sakit kepala dan ruam. Ada beberapa laporan konsumen (di Amerika) yang terkait pospak, misalnya bau insektisida, bayi yang merobek robek pospaknya dan memasukkan potongan plastic ke dalam mulut dan hidung, tersedak karena perekat dan pelapis.

Menurut Journal of Pediatrics, 54 % bayi berumur 1 tahun yang menggunakan pospak mengalami ruam, 16% mengalami ruam parah. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah produsen pospak (nama tidak disebutkan, yang pasti salah satu produsen terbesar), menunjukkan bahwa insidensi ruam popok meningkat dari 7.1% menjadi 61% seiring dengan peningkatan penggunaan pospak. (Diambil dari sini dengan sedikit perubahan)

Memang ada yang anaknya pake pospak nggak pernah kena masalah apa-apa. Para pengguna popok kain pun bisa mengalami ruam kalau terlalu lama popoknya tidak diganti. Meski ada brand popok yang mengklaim produknya bisa tahan bocor hingga 8-10jam, sebaiknya ganti popok setiap 3-4jam. Daya tahan yang bagus itu hanya untuk mengantisipasi jika sang Ibu kecolongan lupa ganti popok atau dalam penggunaan malam sang Ibu ketiduran (atau malas bangun?!hehe..) Segera ganti popok bila kena pup! Reaksi amonia serta feses yang tidak segera dibersihkan bisa menyebabkan ruam.

Lalu, apa dampak untuk lingkungan?

Yang jelas dan nyata adalah sampah pospak yang akan menggunung karena sulit terurai. Penduduk indonesia ini sudah lebih dari 200jt, berapa bayi pake pospak? berapa banyak pospak dipakai setiap hari? tinggal dikalikan saja. Memang di negara maju sana sudah ada produsen pospak yang mengklaim produknya biodegradable. Bagaimana dengan negara (yang katanya) berkembang ini? Kalau memang sudah ada dan sudah banyak yang menggunakan itu bagus. Hmmm…jika ada produk seperti itu di Indonesia, kira-kira harganya berapa ya??

Saya bukan anti pospak ya buibu…saya dulu menggunakan pospak untuk anak saya sejak lahir hingga usianya 3minggu. memang mix dengan popok kain yang sudah muat untuknya, tapi rasio penggunaan tetap banyak pake pospak  (Lha dapet kado juga pospak). Turning point saya nggak mau pakein pospak lagi ke anak saya adalah ketika dia ruam parah di daerah kewanitaannya. Saya benar-benar merasa sangat bersalah saat itu..meski rajin mengganti pospak, ternyata anak saya memang alergi pospak (dokternya yang bilang). Ada rasa bersyukur juga sih…anak saya ternyata malah mau diajak ngirit!

Ya! salah satu keuntungan menggunakan popok kain adalah IRIT! hehehe…ibu-ibu banget ya?! Yaa…musti realistis lah..jaman sekarang semua serba mahal. Jika bisa menekan satu pengeluaran saja, kan lumayan bisa buat subsidi yang lain. Dan pengeluaran pospak saya pikir merupakan pengeluaran besar. Saat masih menggunakan pospak, saya pernah membeli eh dibelikan mertua saya pospak merk MP yang isi 52 ya kalo nggak salah? pokoknya yang ukuran guede. Kalau nggak salah lagi, harganya sekitar 80ribu lebih dikit. Dan habis dalam waktu kurang dari 3 minggu. Sehari saya pakai 4 mix dengan popok kain karena new born kan masih sering pup..

Hmm…nanti saya akan posting sendiri deh alasan berpindah ke popok kain. Sekarang maen sama anak dulu.. 😀

see ya!