saya memang telat nonton film ini. pas booming, saya sedang pelit buat keluar duit 20ribu ke 21. bisa buat makan sih.. πŸ˜€

akhirnya saya dapat yang sudah donlod-an dari seorang teman dan malam ini saya midnite di kamar saya sendiri, nonton Slumdog Millionaire. awalnya saya tidak menyangka kalau film ini ada hubungannya dengan realiti show Who Wants To Be a Millionaire karena saya juga tidak mencari review dari film ini sebelumnya. saya hanya tau, ini film Bollywood yang dikemas Hollywood. saya menonton film berdurasi kurang lebih 2 jam ini tanpa putus. saya mengikuti setiap alurnya dan tidak merasa bosan. tidak seperti film Bollywood yang saya tau, di sini tidak ada polisi yang datang telat setiap adegan berantem, tidak ada tarian dan nyanyian ditiap pohon. it’s Hollywood! kalau kata saya sih.. ya begini ini harusnya film India itu.

di luar kontroversi yang ada, saya sangat mengagumi film ini. bagi saya yang kapasitasnya adalah penikmat film bukan pemerhati, saya sangat terhibur. sekali lagi, saya ini penikmat film, bukan pemerhati. jadi tulisan ini saya buat sangat subyektif. moral dari cerita ini yang bisa saya ambil sesuai kapasitas saya adalah perjuangan hidup yang tidak mudah dalam menjalaninya sebagai sebuah takdir, persaudaraan yang kuat, don’t judge a book from the cover, dan kalau jodoh memang nggak kemana πŸ˜€

rasanya saya tidak perlu menjelaskan bagian mana yang saya anggap menyampaikan moral-moral yang saya dapat itu. bagi yang sudah menonton (dan berpendapat sama dengan saya tentunya) pasti tau, kalau yang belum nonton silakan ditonton saja. not fair kan kalau saya ceritakan di sini?

now, i’m on a proceess, on my way to my destiny. all “WH question” about my destiny, saya masi mencari jawabannya. tapi dibagian “Who is my destiny?” saya sangat berharap dialah jawabannya, a man i called Ayah..

time to sleep, ending the Himsoniac disease πŸ˜€